Renungan Pagi: Pesan Perdamaian

Kejadian 50:16-17a

(16) Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 

(17) Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” 

Itulah contoh Pesan Perdamaian

 

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 

Setiap orangtua selalu berpesan kepada anak-anak supaya hidup saling mengasihi satu dengan yang lain dan mengajarkan hal-hal yang baik.

Jika ada perselisihan atau beda pendapat, maka orangtua berusaha mendamaikan anak-anaknya.

Walaupun harus diakui bahwa terkadang ada juga yang membeda-bedakan anak-anaknya, sehingga muncullah istilah “anak emas”.

Penyebutan “anak kesayangan” dalam keluarga menimbulkan kecemburuan atau iri hati di antara kakak-beradik.

Yusuf juga mengalami hal yang sama.

Kebencian itu menimbulkan rencana dan tindakan jahat kepada Yusuf.

Akibat perbuatan jahat maka ada rasa kuatir dan takut dari saudara-saudara Yusuf jika mungkin Yusuf akan membalas kejahatan mereka setelah ayahnya meninggal.

Oleh karena itu saudara-saudara Yusuf berinisiatif menyampaikan “pesan perdamaian” dari Yakub, ayah mereka, yaitu: “Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka.”

Saudara-saudara Yusuf mengetahui dengan pasti bahwa Yusuf akan mendengar dan melaksanakan pesan ayahnya, karena ia adalah anak yang berbakti kepada orangtuanya.

Tindakan membujuk secara halus oleh saudara-saudara Yusuf agar supaya mereka terhindar dari pembalasan yang mungkin akan dilakukan Yusuf.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 

Peristiwa yang dialami Yusuf dan saudara-saudaranya seringkali juga terjadi di tengah-tengah keluarga Kristen masa kini: karena pembagian budel (warisan), karena memperlakukan anak tertentu secara istimewa atau “anak ernas” dan lain sebagainya.

Firman yang kita baca hari ini memperingatkan kita bahwa perlakuan istimiwewa terhadap anak tertentu, cucu tertentu dan kebencian yang timbul karena itu telah mengakibatkan keretakan dalam hubungan keluarga, bahkan berujung pada kejahatan.

Pemulihan keretakan hubungan terjadi karena Tuhan menyertai Yusuf yang setia menyembah, beribadah dan taat menuruti perintah-Nya walaupun dalam keadaan yang sulit dan mencekam.

Penyertaan Tuhan kepada Yusuf menjadikannya orang yang penuh kasih dan berbelaskasihan.

Oleh karena kasih Tuhan kepada Yusuf maka ia mengasihi saudara-suadaranya secara tulus hati dan tidak berniat membalas dendam.

Keluarga Kristen yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus. 

Karena itu orangtua harus mengasihi anak-anaknya sebagaimana Tuhan telah mengasihi orang percaya dengan tulus dan tanpa pamrih serta tanpa membeda-bedakan.

Kasih persaudaraan karena ikatan sedarah sedaging kiranya mendorong kita untuk saling mengasihi, saling memaafkan dan hidup rukun dan damai seperti yang dicontohkan Yusuf.

Tuhan Yesus memberkati.

Amin. 

 

Doa: 

Ya Tuhan Allah, mampukanlah agar ketika ada kesalahpahaman dan pertikaian kami dapat membawa pesan perdamaian.

Kiranya kasih-Mu sebagaimana yang dipraktikkan Yusuf menyayangi saudaranya menjadi bagian hidup kami.

Amin.

(Sumber: Dodoku GMIM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *